Pada putaran pertama, kegiatan akan digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026 bertempat di Ponpes Duta Aswaja Kec. Bae Kab. Kudus dengan menghadirkan narasumber Kepala Dinas Kesehatan Kab. Kudus Dr. dr. Abdul Hakam, M. Si, Med, Sp. A dan Kasi. PD Pontren Kemenag Kab. Kudus H. Afif Noor. Selain itu, akan hadir Bidang Advokasi RMI NU Kab. Kudus M. Ilham Zidal Haq, M. Pd sebagai keynote speaker.
Dalam kegiatan sosialisasi ini, akan diundang pengasuh pesantren, musyrif/musyrifah, lurah pondok, pengurus pondok, yang ada di tiap kecamatan masing-masing dan Pengurus MWC NU setempat beserta Banomnya. Ketua RMI NU Kab. Kudus H. Khifni Nasif, M.E menyampaikan kegiatan ini merupakan wujud Khidmah RMI terhadap Pesantren. "Para pengurus pondok, Musyrif/Musyrifah, dan semua pihak yang terkait harus memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi kekerasan dalam pondok pesantren" jelasnya.
Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren El Fath El Islami ini menambahkan perlu adanya upaya kongkrit agar tidak terjadi kekerasan dalam pesantren. "Bersama Kemenag, Dinas Kesehatan Kab. Kudus, Lembaga Kesehatan NU dan beberapa pihak terkait, kita berikhtiar untuk meminimalisir segala bentuk kekerasan" imbuhnya.
Putaran kedua Rangkaian roadshow sosialisasi ini dijadwalkan pada 18 Juli 2026 di Kec. Mejobo dan akan dilanjutkan pada 25 Juli 2026 yang akan diselenggarakan di Kec. Jati. Putaran berikutnya diagendakan pada 15 Agustus 2026 di Kec. Kota dan dilanjutkan di Kec. Undaan pada 29 Agustus 2026. Putaran Keenam dijadwalkan bertempat di Kec. Jekulo pada 12 September 2026 dan untuk Kec. Gebog direncanakan pada 26 September 2026. Putaran berikutnya akan digelar di Kec. Kaliwungu pada 3 Oktober 2026 dan Putaran terakhir akan dilaksanakan pada 17 Oktober 2026.
Sebagai follow up, akan diundang seluruh pengasuh pondok se-kabupaten Kudus, musyrif/musyrifah dan lurah/pengurus pondok dalam puncak kegiatan pada tanggal 29 November 2026. "Lembaga pendidikan keagamaan, khususnya pesantren harus menjadi ruang aman dan nyaman bagi santri, bukan justru menjadi tempat terjadinya penyimpangan dan kekerasan" tutup gus Khifni.
(/by)

0 Komentar